Showing posts with label Purworejo. Show all posts
Showing posts with label Purworejo. Show all posts

Friday, 21 November 2014

Jadi Beda, Satu Panen di Purworejo dengan Bandung?

Jadi Beda, Satu Purnama Panen di Purworejo dengan Bandung?
Saya duduk di kursi merah, di lantai tiga. Menatap dari jendela, melihat para petani sedang panen padi. Satu petak sawah yang tak begitu besar sebenarnya, tapi orang yang memanen sebegitu banyaknya, kalau tak salah enam orang. Di desa saya, sawah segitu paling cukup dipanen tiga orang saja, seorang ngarit, seorang mengumpulkan padi, dan seorang menyerit, memisahkan padi dari batangnya.
Alat yang digunakan juga berbeda. Di desa saya, yang menjadi salah satu desa penghasil padi di Purworejo, hampir semua orang menggunakan mesin untuk memanen padi. Di sini masih manual, masih digebug. Itu sangat menguras tenaga dan berpotensi mengambuhkan sakit encok, pengalamanku demikian.
Saya jadi teringat seorang kawan, Lekno namanya. Dia dan kedua kakaknyalah yang menyulap panen padi di daerah kami tak lagi harus digebug. Mereka menciptakan sebuah mesin panen padi dengan merek ‘Ngudi Mulyo’. Sebenarnya sederhana saja alat yang mereka ciptakan, tapi kemanfaatan dan kepraktisannya itulah yang membuatnya istimewa. Berbeda dengan mesin panen padi yang katanya dari pemerintah, mesin itu besar, berat dan tidak praktis. Bikin rempong para petani.
Lahirnya Ngudi Mulyo
Latar belakang kedua saudara Lekno adalah tukang kayu, tapi saat panen padi tiba, mereka alih profesi sebagai tukang derep, jasa pemanen padi. Di desa, secara ekonomi derep sangat menjanjikan. Sekali musim panen bisa menghasilkan jutaan. Bahkan ada kawan yang merantau ke Ibukota saat panen tiba meluangkan pulang untuk derep. Saya saja waktu di pesantren disuruh pulang untuk memanen padi sawah sendiri, karena kalau diderepin lumayan banyak kurangnya. Mending buat sangu ke pesantren.
Nah, kalau tak salah tahun 2010, mereka (saya sebut Trio Ngudi Mulyo biar mudah) juga ikut derep untuk mendapatkan rezeki. Namun yang membuat Trio Ngudi Mulyo berbeda dengan yang lain adalah, mereka menggunakan mesin pemanen padi. Benar saja, menggunakan mesin buatan mereka sendiri jauh lebih ringan daripada menggebug padi.
Panen selanjutnya mereka mulai memroduksi mesin itu dan dijual secara umum. Di tahun pertama, karena masih perkenalan produk, belum banyak pemesan. Seperti seorang da’i yang biasanya lebih kondang di daerah lain, atau seorang dukun yang lebih moncer di kabupaten lain, nasib mesin serit yang diberi merek Ngudi Mulyo juga demikian. Orang-orang dari luar kecamatan sudah menikmati mesin Ngudi Mulyo, tapi orang-orang sedesa malah belum. Saat saya dan Lekno ngobrol tentang fenomena ini, Lekno selalu berkelakar, “Mereka belum mendapat hidayah.”
“Hahahaha!” Itu saya tertawa.
Inovasi-inovasi terus dilakukan oleh Trio Ngudi Mulyo ini. Biar mesin lebih praktis dan memiliki banyak kelebihan.
Tahun 2012, saya masih ingat betul, produk mereka sudah terjual 160 unit. Sebagai sebuah produsen rumahan, ini adalah prestasi yang sangat bagus. Saya waktu itu pernah membuatkan brosur yang saya update di fb, tapi petani mana yang menggunakan fb waktu itu? Iklan saya tak memberikan dampak besar. Justru promosi terbesar adalah dari mulut ke mulut.
Ini brosur buatan saya yang saya upload di fb

Selain pernah mengiklankan di fb, saya juga pernah menjualkannya. Saya bawa satu dan laku semua. Waktu itu di daerah Bantul, Yogyakarta. Itu saya masih nyantri di Kotagede.
Bersama motor tua, Grand '91 dan Ngudi Mulyo. Praktis kan?

Kemarin saya nelpon Lekno, menanyakan kabarnya dan istrinya yang hampir melahirkan. Juga perkembangan Ngudi Mulyo-nya. Ternyata ada produk terbaru, selain mesin penggilas kedelai untuk pembuatan tempe, ada juga mesin untuk ngulet (menyampur bahan-bahan pemuatan bata dengan air). Dibanding ngulet manual, mesin ini jauh lebih efisien, baik dari segi waktu maupun tenaga.
Saya tanyakan juga kabar mesin padinya. Ternyata saat ini sudah mencapai penjualan 650 unit. Luar biasa, baru berumur sekitar tiga tahun, tapi penjualannya hampir tembus 700 unit. Sebuah produksi rumahan yang terus berinovasi ternyata mampu memproduksi alat-alat yang berkualitas dan bermanfaat bagi banyak petani.
Trio Ngudi Mulyo bukanlah orang-orang yang secara formal mangan gendėng sekolahan, tapi mereka mampu membuat terobosan yang bisa dinikmati orang banyak. Sebab guru mereka adalah alam. Barangkali demikian.
Memang, panen di Bandung berbeda dengan panen di Purworejo. Bukankah sudah ada Ngudi Mulyo?
Oh ya, saya, Ali dan Lekno juga sempat membuat video tutorial Ngudi Mulyo, saya upload di Youtube dan dikasih judul (1 cara memasang serit, 2 cara memasang dan mengoperasikan, 3 membongkar serit menjadi 2 unit, 4 menaikkan ke motor, dan 5 cara mencopot dari motor). Silakan kalau mau nonton cari sendiri, itu video yang kualitas gambarnya tidak bagus, tapi dialog-dialognya kadang bikin saya cekikikan sendiri kalau pas memutarnya. 
Kalau kalian membaca tulisan ini dan hendak mencari produk Ngudi Mulyo, saya kasih tahu alamatnya. Tapi ini rahasia lho ya ...
Sudah dulu ya, semoga tulisan ini menginspirasi dan menginformasi. Kalau ada salah ketik, besok atau lusa saya edit deh.

Bandung, November 2014

Thursday, 22 May 2014

Curug Muncar adalah Anugrah Tuhan untuk Purworejo

Purworejo, sebagai sebuah kabupaten memang tergolong tidak terkenal, bahkan namanya kalah terkenal dengan Kutoarjo, sebuah kecamatan yang ada di Purworejo. Maklum, Kutoarjo memang memiliki jalan raya nasional yang menghubungngkan antara Kebumen dan Jogja, selain juga memiliki stasiun kereta Api yang tiap tahunnya dipakai oleh orang-orang dari Purworejo, Magelang, Kebumen, Wonosobo, bahkan Temanggung untuk mudik lebaran. Namun objek wisata alam di sini ternyata memiliki kekayaan yang lumayan bagus, sayang pemerintah daerah belum mengelolanya dengan baik. Salah satunya yaitu Curug Muncar yang terletak di Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, jaraknya sekitar 45 km ke arah barat daya dari pusat Purworejo.

Sebagai warga Purworejo, tentunya saya ingin menikmati beragam wisata alam yang dimiliki kabupaten yang sangat tua ini. Akhirnya angan-angan saya terkabul setelah melalui perbincangan ringan di sebuah panggok, tempat di manasetiap malam hari kita, anak-anak muda, berkumpul untuk sekedar ngobrol dan lain-lain. Hari itu tepatnya tanggal 9 Februari 2014, saya dan teman-teman memutuskan untuk mengunjungi air terjun Curug Muncar. Barangkali, inilah salah satu bentuk kecintaan kami untuk kota kami.

Hari H
Akhirnya setelah telat 15 menit dari jadwal yang ditentukan, tepat jam 11.15 aku dan teman-teman berangkat dari desa kami, tepatnya desa Wareng, Kecamatan Butuh, Purworejo. Saya, Habib, Nanang, Slamet, Imam, dan Yusuf, berangkat dengan memakai motor berbonceng-boncengan. 


Curug ini letaknya dari Kutoarjo ke arah utara, dengan jalan yang naik dan berliku, berjarak sekitar 20 km. Jalanan yang kami lalui, selain berliku dan naik, ternyata tidak semuanya mulus. Beberapa bagian aspalnya rusak, dan ini tentu mengganggu para wisatawan yang akan kesana. Untunglah pemandangan di pinggir jalan cukup menarik dan indah khas pegunungan, namun di balik keindahan itu sang sopir harus waspada karena belokannya cukup banyak dan kadang tajam, kalau tidak, jurang menanti di salah satu sisi jalan.


Ternyata lokasi air terjun tidak di pinggir jalan, kami masih harus masuk ke dalam desa dan hutan. Sambil istirahat sebentar, setelah satu jam menempuh perjalanan, kami mampir ke warung membeli snack dan minuman. Karena di air terjun ini masih sepi dan perawan, maka kami harus sedia minum dan makanan sendiri dari rumah jika tak ingin kelaparan dan kehausan. Setelah cukup kami masih harus melewati jalan cor dari semen yang jika tidak hati-hati bisa terpeleset karena jalannya hanya cornya hanya cukup untuk satu motor di kanan dan satu motor di kiri, belum lagi medannya semakin naik turun. Tidak sampai disitu, lokasinya ternyata tidak bisa dilewati kendaraan apapun, akhirnya kami menitipkan motor di penitipan, dan itulah rumah terakhir yang kami jumpai sebelum ke air terjun.


Dan inilah perjalanan yang sesungguhnya yang cukup menguras energ. Bagaimana tidak, dengan jalan setapak yang naik turun, sekitar 40 menit kami berjalan kaki dan itu sangat melelahkan. Sesekali kami istirahat meneguk air sambil menikmati pegunungan yang sangat indah, barangkali bisa melepaskan lelah dan menghibur diri, meski rasa pegal sudah mulai terasa. Haha..

Setelah 40 menit, akhirnya kami sampai pada tujuan. Dari jauh air terjun itu sungguh indah. Dan memanglah tidak sia-sia kalau kelelahan kami dibayar dengan keindahannya. Setelah membasuh tangan dan wajah, akhirnya kami mulai beraksi. Air terjun yang tingginya mencapai…. Sebelumnya saya salat zuhur dulu di atas batu, dan itu ternyata memiliki sensasi yang sangat asyik. Salat di atas batu yang posisinya miring, dengan dikelilingi keindahan alam, dan ditemani air terjun sungguh sangat mengesankan. Sepertiyna saya menyatu dengan alam, dan merasakan betapa besar ciptaan dan anugerah Tuhan kepada manusia. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan? Sementara saya salat di atas batu, teman-teman sudah mulai mandi di bawah air terjun yang mengalir deras, tapi tidak langsung mengenai tubuh mereka. Dan mereka melakukan salat tepat di bawah gemericik air terjun. Pasti lebih sensasional.



Untuk sebuah objek wisata  yang sangat mempesona, pengunjung wisata kebanggan Bruno dan Purworejo ini masih sangat minim. Total selama kami di sana, tidak lebih dari 30 orang kami berpapasan, itu pun bergantian. Dikatakan bahwa, pengunjung ramai jika hanya setelah lebaran. Di mana di sana biasanya ada pementasan seni dangdut. Padahal jika dikelola dengan baik, maka tidak mustahil tempat wisata ini bisa bersaing dengan Grojogan Sewu, Tawangmangu, tentu dengan nilai khas tersendiri yang dimilikinya. Bukankah di sini banyak duren jika musim tiba? Dan wisata itu bisa dikawinkan. Apalagi Purworejo juga punya Pantai Ketawang, Bedug Pendowo, juga merupakan tempatkelahiran pencipta lagu Indonesia Raya WR. Supratman. Sebagai warga asli Purworejo, tentu saya sangat berharap kepada pihak manapun, terutama pemerintah daerah agar tempat wisata Purworejo bisa bersaing dengan kota-kota tetangga seperti Magelang, Yogyakarta, Wonosobo, atau Kebumen. Bukankah letak Purworejo sangat strategis? Menghubungkan Jawa Tengah dan DIY jika melewati jalur selatan pulau Jawa?

Setelah puas, maka jam 13.30 kami memulai pulang, ternyata perjalanan pulangmeletihkan. Di samping badan capek, eh harus jalan lagi…tapi ya sudahlah, hehe…paling tidak kami sangat puas dengan jalan-jalan hari ini. Dan perjalanan wisata hari itu dipungkasi dengan pesta duren di Kutoarjo, tepatnya di sebelah selatan Terminal Kutoarjo dimana para pedagang berjajar jualan. Kami pun makan sepuasnya (lha wong dibayari), sayang Imam tak doyan duren, ia pun hanya menunggu di jok motor.


Akhirnya kami sampai ke desa tercinta kami dengan puas meski lelah. Ternyata kota ini memiliki tempat wisata yang sangat menarik. Entah kapan lagi kami akan jalan-jalan lagi, tentunya di daerah Purworejo, tempat lahir kami semua. Tentu masih banyak destinasi wisata yang menarik lainnya. Dan Curug Muncar adalah anugerah untuk Purworejo.

@fuadngajiyo

Tuesday, 25 February 2014

Perjalanan Wisata ke Bandung



Bagi saya, setiap perjalanan adalah berwisata, meski tidak ke tempat wisata.Sebab saya selalu suka dengan hal-hal yang baru; lingkungan baru, budaya baru, dan banyak hal, termasuk baju baru pas lebaran.Ahihihihi. Kali ini saya akanberkisah tentang pengalaman saya ketika menginjakkan kota Bandung untuk yang pertama kalinya. Sebenarnya tujuan saya ke Bandung berurusan dengan pekerjaan, dimana saya akan tes wawancara untuk masuk sebuah perusahaan di Bandung, tetapi tetap saja bagi saya ini adalah perjalanan wisata. Anggap saja fifty-fifty.Separuh wisata separuh urusan kerja.
Kebetulan tujuan saya di daerah Cinembu, Ujungberung, Bandung.Beberapa hari sebelum berangat saya sms teman-teman yang berasal dari Bandung, atau paling tidak disinyalir bertempat tinggal di Bandung.Biasa, untuk meminimalisir pengeluaran penginapan. Akhirnya salah serang dari mereka memang tinggal di Bandung dan lumayan dekat dengan lokasi yang akan saya tuju. Dia adalah teman sewaktu kuliah di Jogja. Untunglah ada dia, kalau tidak, tentunya saya akan memilih tidur di masjid biar tak mengeluarkan biaya. Paling-paling hanya dimintai KTP, dan itu sudah biasa.
Erupsi Kelud yang terjadi malam jum’at (14 Februari 2014) ternyata berdampak sampai kampung saya yang terletak di kabupaten Purworejo. Biar kalian suatu saat mau berkunjung ke kampong saya, ini lho lengkapnya: Desa Wareng, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.Abu bisa mencapai ketebalan 2cm yang membuat jalanan berdebu. Toh demikian siangnya sebakda jum’atan saya paksakan diri untuk ke Stasiun Kereta ApiKutoarjo untuk membeli tiket ke Bandung, soalnya takut tidak kebagian tiket kalau terlalu mepet dengan hari H. Benar saja, jalanan penuh debu hingga jarak pandang hanya sekitar 2 meter ke depan. Saya memesan tiket untuk hari rabu tanggal 18 februari 2014 jurusan Kutoarjo-Kiara Condong dengan memakai kereta Kotajaya Selatan. Tiketnya sendiri setelah kenaikan menjadi Rp 60ribu, walaupun sebelum kenaikan saya nggak tahu berapa, belum pernah ke Bandung sih.Hehe….
Seperti biasa saya tak mau ribet bawa ini itu kalau bepergian, toh ini mau ada keperluan wawancara kerja diselingi silaturahim dan jalan-jalan sedikit. Hanya 2 potong baju, 2 celana panjang, 2 kaos, sepetu untuk wawancara, serta sandal selop.Tak lupa juga bawa netbook, kalau sewaktu-waktu dibutuhkan di perjalanan, juga buat nulis ini. (oh ya, mulai nulis tulisan ini saya masih di Kiara Condong lho, nunggu kereta mau pulang). Oh ya satu lagi yang tak ketinggalan, air minum sekitar 600mili, yg dikucurkan langsung dari kendi tanah di rumah. Jadi kebanyakan ya bawanya? Hehehe…. Gak papa lah, tas sudah penuh sesak karena kapasitasnya memang yang kecil.
Singkat kata kereta berangkat tepat waktu yaitu jam 09.15 dari stasiun Kutoarjo. Ini memang perjalanan pertama saya naik kereta setelah PT KAI melakukan perubahan-perubahan besar dalam tubuh mereka.Maka disini saya juga akan memberikan sedikit keterangan tentang hal itu. Satu catatan penting yaitu, kereta berangkat tepat waktu, dan ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan pelayanan PT. KAI tempo dulu.Setelah masuk kedalam kereta, banyak kursiyang masih kosong, maklum ini kan pemberangkatan di stasiun pertama, untuk 4 kursi satu meja hanya terisi saya seorang. Lambat laun kursi terisi 4, ditambah seorang anak kecil cewek imut yang ada di samping saya.
Kabar bahwa saat ini pengasong dan pengamen tak boleh memasuki kereta ternyata bukan omong kosong.Jika dulu setiap jalan-jalan pakai kereta saya selalu merasa terganggu (dan sekaligus terhibur dengan ulah asongan yang unik), kali ini lengang.Hanya sekali kondektur memeriksa karcis, dan beberapa kali petugas menawarkan bantal, minuman, makanan, dan membersihkan lantai kereta. Itu sama sekali tak membuat suasana santai dan liyer-liyerku terganggu.Bersamaan dengan bergeraknya kereta, beberapa lagu diputar oleh petugas.Suasana pun semakin nyaman saja.Mulai dari lagu Oplosan yang sedang naik daun, disusul dengan lagu wali, dan beberapa lagu yang tidak bisa kuingat dengan baik saking menikmatinya.

Kereta melaju terus melewati berbagai stasiun, memasuki stasiun Kroya petugas mengingatkan kepada penumpang untuk tidak membeli pedagang asongan dan membukakan pintu untuk mereka.Benar saja, ternyata masuk Kroya, ketika kereta berhenti beberapa menit banyak pedagang asongan menawarkan dagangan walaupun tak sempat masuk ke dalam kereta.Baru setelah memasuki Stasiun Sidareja mereka sudah masuk ke dalam kereta.Setelah berjam-jam sepi, akhirnya kedatangan mereka membuatku terasa terhibur, meski saya sadar bahwa mereka melanggar peraturan.Beberapa pedagang pecel menawarkan makanan, perutpun beraksi dan akhirnya saya tak bisa menahan lapar yang menggila.Sayapun membeli satu porsi.Ada kejadian menarik ketika beberapa pedagang diusir oleh petugas.Waktu itu kereta dalam keadaan melaju kencang. Saya tak  dengar dengan jelas petugas itu bilang apa karena lirih, tapi jika dilihat dari bahasa tubuh, dia mengusir. Eh seorang ibu penjual pecel nyeloroh, “Disangoni pak” khas dengan logat ngapak cilacapan. Lucu dan miris. Satu sisi mereka mencari rejeki, sisi yang lain mereka melanggar peraturan. Ah, mudah-mudahan pemerintah segera menemukan solusi terbaik yang menguntungkan semua pihak.

Beberapa stasiun terlewati.Saya masih penasaran dengan fasilitas kereta.Untuk mengeceknya, saya sempatkan ketoilet untuk melihat kebersihannya dan kesediaan air.Wah ternyata sudah lumayan bersih walau agak pesing.Disana juga ada air mengalir dan juga tersedia tisu untuk cebok.Itu gambaran toilet. Yang lain, pada setiap tempat duduk yang disana terdapat meja kecilnya juga ada colokan listrik berisi 2 yang bisa untuk ngecharger. Alhasil kalau kalian bepergian naik kereta, sekarang tak usah takut kehabisan batre hp. Dan itu tentu menambah kenyamanan.Bagaimanapun hp sekarang telah menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa tertinggal atau mati. Ibaratnya lebih baik tertinggal duit daripada tertinggal hp. Hehe …

Sekitar pukul setengah empat sore teman saya yang selama saya di Bandung akan menyediakan ‘hotel’ sms menanyakan sampai mana. Saya bilang sesuai jadwal masih sejam lagi. Sesaat setelahnya saya melongok jam dihp, sudah jam setengah lima dan seharusnya sudah sampai di Kiara condong, tapi nyatanya belum. Ternyata penyakit ingkar janji masih belum hilang juga buat KA. Sampai Kiara Condong pukul lima, molor setengah jam dari jadwal yang tertera pada tiket. Biarpun sudah sore saya tak takut kehabisan kendaraan, sebab di Bandung angkota sampai malam beroperasi.
Melihat tata ruangnya, kota ini terlihat rapi. Di beberapa titik terdapat tempat sampah dengan dua kantong plastik.Satu kantong untuk sampah organik, sedang yang satu untuk sampah nonorganic. Namun, beberapa tampat sampah kantongnya tidak lengkap, kadang hanya ada satu, kadang malah tidak ada kantongnya sama sekali. Tentu ini menjadi catatan sendiri untuk penkot Bandung, ide yang bagus perlu aksi yang berkelanjutan. Eh….aku sopo to kok ngandan-ngandani? Wong mung pem-bolang ora cetho…… yo men kok (jawabku cuek).

Hari Rabu, tanggal 19 saya wawancara kerja. Awalnya mau pulang langsung ke Kutoarjo, tapi karena masih ingin tinggal di sini sekaligus takut tak kebagian tiket kereta, maka saya putuskan untuk molor sehari. Padahal di rumah sedang mau dapat giliran tahlil lho…pasti makan enak,,,dan juga sedang ada proyek pembuatan film dokumenter dengan kawan bertema Tari Ndolalak yang khas Purworejo.
Kamisnya tepatnya saya beranjak pulang. Sebenarnya jadwal kereta pukul 21.10, tapi karena ingin muter-muter dulu akhirnya saya pamitan dengan teman saya pagi jam 09.30. Kebetulan jarak Kiara Condong dengan Ujungberung lumayan jauh, apalagi dengan angkutan umum, cukup menguras waktu.
Perkenalan dengan orang-orang seperjalanan.
Satu dari sekian hal yang menurut saya menyenangkan ketika bepergian yaitu “perkenalan dengan orang-orang baru seperjalanan”.Ada 3 orang diperjalanan yang berkenalan dan ngobrol asik dengan saya.Ketiga-tiganya hingga memberikan no hp atau pin bb, baik mereka atau saya yang meminta.Masing-masing dengan latar belakang dan ceritanya sendiri-sendiri.

Orang pertama yang saya temui adalah seorang pria berumur sekitar 35 tahunan. Dia asli Solo, istrinya asli Bandung dan dia sekeluarga tinggal disini. Pekerjaannya sebagai sopir travel Bandung-Jakarta. Katanya, travel untuk trayek ini sangat ramai, terlebih hari sabtu-minggu.Alasan mengapa dia pulang menjadi topik utama perjumpaan kami di Stasiun Kiara Condong.Sambil menunggu kereta yang masih lama, kami ngobrol ngalor ngidul.Kepulangannya disebabkan karena kakaknya meninggal. Dia bercerita bahwa dulu ketika sekolah SMA sang kakak adalah seorang yang sangat cerdas. Kemampuannya di atas rata-rata.Seperti orang tua umumnya yang berfikir konservatif, orang tuanyajuga menghendaki dia menjadi dokter atau insyinyur. Keinginan tersebut sah-sah saja(menurut saya) asal tidak memaksakan kehendak, tapi yang terjadi padanya sangat disayangkan. Bahkan ketertarikannya pada seni, seperti teater dilarang oleh orangtua.Walhasil dia menjadi pribadi yang tertutup dan pada akhirnya depresi.Dia akhirnya dimasukkan sebuah pesantren yang berada di Semarang yang dapat menangani orang depresi hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lantas apa kesimpulannya? Cari sendiri!! Manja!!
Orang kedua yang kujumpai yaitu bapak-bapak berusia 40an tahun.Dilihat dari dandanannya, dia adalah pekerja pada sebuah perusahaan.Necis. Membawa dua tas besar yang terisi penuh. Saat itu saya ‘nglemprok’ di pojok ruang tunggu stasiun, tepatnya di dekat tempat untuk nge-charger hp dan netbook.Maklum pada saat tulisan ini mulai dibuat, baterai netbook sudah minim, terlebih juga saya gunakan untuk ngegame Plants and Zombie yang sedang memvirusiku.Setelah basa-basi, saya mendapatkan data tentangnya. Dia adalah seorang pekerja pertambangan batu bara yang beroperasi di Kalimantan. Kedatangannya ke Bandung dalam rangka mengikuti pelatihan yang diadakan pemerintah.Dia yang lulusan SMA merasa paling bodoh saat mengikuti acara tersebut.Bagaimana tidak, lainnya adalah sarjana semua.
Dalam ceritanya, salah satu resiko bekerja di tempat ini adalah menjadi korban kecembuaruan sosial bagi masyarakat sekitar.Dia yang pekerjaannya sebagai pengukur lahan terkadang harus berhadap-hadapan dengan pemilik lahan yang alotnya minta ampun.Di hutan belantara, seringkali tanah yang telah dibeli oleh perusahaan dijual kembali oleh penduduk.Saking luasnya, sebagai pendatang baru tentu tidak mudah ‘niteni’ tanah.Jangan bayangkan dengan tanah di Jawa.Dan untuk meredam kecemburuan warga, biasanya perusahaan mempekerjakan mereka 60 persen.Namun pada kenyatannya, karena sebuah tuntutan akhirnya jumlah itu bisa meningkat menjadi 90 persen.Dilematis, ujarnya.Sebuah perusahaan dalam merekrut pekerja tentu berdasarkan skill yang mereka miliki, namun terkadang warga skillnya minim. Tapi apa boleh dikata, daripada ribut? Sebenarnya masih banyak yang ia ceritakan, tapi tak akan kutulis semua, sebab saya juga bingung waktu menjelaskan dunia batu bara. Yang jelas dia memberikan banyak ilmu dan banyak jajan, ada tempe mendoan jumbo, gorengan pisang, juga minuman dingin. Terimakasih pak. Walah, sampai lupa aku menanyakan namanya, padahal sudah punya pin bbnya. Tapi kan yang diprofilnya namak nama anaknya, Echa.
Orang ketiga dan yang tak kalah menarik adalah seorang mahasiswi tehnik elektro yang kuliah di Bandung bagian atas, pokoknya tempatnya sudah dingin deh… Saya lupa bagaimana mulanya, yang jelas pembicaraan kami kemudian berputar pada masalah paham Islam yang sudah semakin beragamnya.Dia takut sekaligus menyayangkan orang-orang yang memilih berpaham ‘beda’. Kutanya apa latar belakang keluarganya, ternyata Islam tradisonal alias NU. Kalau begitu sama. Sebagai lulusan Tafsir Hadis, saya ‘sombong’ menerangkan ini itu.Bahwa pemahaman yang berbeda pada teks agama menjadikan praktik keagamaan yang berbeda pula.Lantas siapa yang paling benar? Dalam hal ini dia saya ajak untuk berfikir pula, eh berbingung pula ding…karena saya juga tak tahu siapa yang benar. Setahu saya kalau Iwan Fals lagunya bagus-bagus itu benar. Sebenarnya saya satu kereta dan tujuan dengannya, tapi karena beda gerbong akhirnya perpisahan kita terjadi waktu di Stasiun Kiara Condong. Perpisahan itu tanpa air mata, apalagi air seni… pokoke ora koyo neng film-film sinetron.

Tak terasa menungguku selama berjam-jam akhirnya kelar juga. Saya harus pulang ke Kutoarjo pukul 21.10 memakai kereta sama dengan harga 60 ribu. Selamat membaca tulisan saya selanjutnya!! (kalau kalian belum muak saja, silahkan).
(Bandung-Purworejo, 21-23 Februari 2014)