Tuesday, 19 August 2014

Resensi Buku "Islam Indonesia dalam Ancaman Fundamentalisme?"



Judul Buku     :    Conservative Turn; Islam Indonesia dalam Ancaman Fundamentalisme
Penulis           :    Moch Nur Ichwan, Ahmad Najib Burhani, Mujiburrahman, Muhammad Wildan, dan Martin van Bruinessen
Editor             :    Martin van Bruinessen
Penerbit         :    Mizan, Bandung
ISBN               :    978-602-1210-02-4
Cetakan  I       :    Maret, 2014
Tebal              :    352 hlm

Gerakan-gerakan keislaman yang muncul saat ini, oleh para pengamat tak bisa dilepaskan dari runtuhnya rezim Orde Baru. Tumbangnya rezim ini membuat kelompok-kelompok yang dulunya sembunyi-sembunyi mulai menampakkan diri. Buku ini setidaknya membahas beberapa kasus perkembangan pemeluk Islam di Indonesia. Perjalanan MUI dari tahun ke tahun, gejolak dalam tubuh Muhammadiyah, perjuangan KPPSI di Sulawesi Selatan, dan studi Islam radikal di Solo, Jawa Tengah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI)  yang dibentuk oleh Soeharto, pada tahun 2000 di era Abdurrahman Wahid menyatakan tekadnya untuk mengubah perannya dari “khadim al-hukumah” (pelayan pemerintah) menjadi “khadim al-ummah” (pelayan umat). Bentukan pemerintah yang dulunya selalu menuruti apa kata pemerintah itu, mulai saat itu memisahkan diri dari pengaruh pemerintah. Yang menjadi menarik adalah perjalanan MUI dari dulu sampai saat ini. Dalam tubuh MUI, terdapat tokoh-tokoh yang berbeda ideologi yang kemudian mewarnai kebijakan organisasi ini. Dahulu, pertarungan ideologis di dalam tubuh MUI adalah antara tradisionalisme Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan modernisme Islam Muhammadiyah. Dengan Muhammadiyah sebagai kelompok yang mendominasi. Sekarang pertarungan telah gergeser. Yaitu antara tradisionalis, modernis, puritan, dan radikal bersaing untuk mendapatkan pengaruh di MUI. Dan yang menjadi dominasi adalah suara-suara dari kelompok reformis dan puritan.

Hal di atas bisa dibuktikan dengan: Pertama, orientasi normatif terhadap isu-isu halal dan haram telah menjadi lebih legalistik dalam arti melampaui batas-batas mazhab hukum Islam tradisional. Kedua, orientasi teologisnya yang pada dasarnya konservatif sejak berdirinya, telah menjadi lebih puritan seiring perekrutan beberapa anggota baru yang lebih radikal. Beberapa tokoh yang menduduki pimpinan di tubuh MUI adalah dari golongan ini. Ketiga, orientasi moralnya kian menjadi puritan dan lebih bercampur tangan pada urusan public. MUI tidak hanya menyuarakan pandangan-pandangannya melalui fatwa, tausiyah, atau pernyataan publik lainnya, tetapi juga melalui proses hukum dan politik di parlemen dan demonstrasi massa. Keempat, orientasi ideologisnya telah menjadi kian eksklusif, hanya melindungi kepentingan umat muslim ketimbang merangkul kepentingan nasional.

Membicarakan gerakan Islam radikal tentu tidak bisa dilepaskan dengan Kota Solo. Sebenarnya radikalisme di Solo sudah ada sejak zaman Orde Baru, kita bisa menemukan aksi dari para pemimpin Pondok Pesantren al-Mukmin, Ngruki yang menentang pemerintah dan secara terang-terangan menyatakan keinginan mereka mendirikan Negara Islam saat itu. Solo memang unik, barangkali pengaruh arus utama NU dan Muhammadiyah yang minim inilah yang menumbuhkembangkan kelompok-kelompok Islam radikal di sana, selain lemahnya peran pemimpin tradisional yang mampu menjaga keterikatan sosial seperti di Yogyakarta. Meski kelompok Islam radikal menjamur di kota ini, namun tak ada indikasi bahwa mereka akan menuntut penerapan peraturan daerah syariah seperti pada wilayah lain. Hal ini disebabkan karena karakter Solo dan sekitarnya amatlah abangan.

Tulisan di atas merupakan dua di antara empat penelitian yang termuat dalam buku ini. Tentu, keempat penelitian ini tidak bisa menjadi tolok ukur sikap seluruh penganut Islam di Indonesia. Terlalu dini jika harus dikatakan bahwa mereka sudah menjadi pemeluk agama yang fundamental. Namun, paling tidak kita bisa membaca sejarah yang akan terus bergerak dari masa ke masa. Karena tidak mustahil, jika tidak diantisipasi maka wajah Islam yang seharusnya sebagai rahamatan lil ‘alamin menjadi agama yang garang. Selamat membaca!

Catatan: tulisan ini ditulis beberapa bulan sebelum ISIS meramaikan media.
@fuadngajiyo

Sunday, 20 July 2014

Surat Terbuka Buat Jomblo yang Takut Mudik

Baru-baru ini banyak surat terbuka di dunia maya. Mulai dari surat terbuka buat Menteri Pendidikan yang dibuat oleh seorang anak SMA yang sedang mengikuti UN, buat para politisi, bahkan surat terbuka buat kedua calon presiden.  Fenomena tersebut menggelitik saya untuk juga membuat surat terbuka, barangkali ada  yang mau baca. Ya, minimal saya sendiri.

Surat terbuka ini bukan untuk orang yang punya jabatan di pemerintahan, tetapi keberadaannya sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah. Meski mereka sering dimarginalkan, tapi sungguh, tanpa mereka keberagaman di negeri ini menjadi sangat tidak asyik. Karena keberadaan merekalah lahir kreativitas-kreativitas yang unik, meski juga harus diakui, bahwa keberadaan mereka juga menyebabkan dunia maya dipenuhi tulisan-tulisan alay. Ya, surat terbuka ini buat seluruh jomblo yang ada di seluruh pelosok Indonesia. Wa bil khusus buat mereka yang besok lebaran mau mudik dan masih dibayang-bayangi dengan pertanyaan, “Kapan nikah?”

Perlu saya garis bawahi di sini, bahwa spesies jomblo yang saya maksud dalam tulisan ini adalah mereka yang minimal sudah menginjak usia seperempat abad dan masih belum menikah (bukan pacaran lho). Biarpun sudah punya pacar, tapi belum menikah, maka dia masih dalam golongan orang-orang jomblo yang saya maksud. Sebab pacaran pasti akan berakhir dengan putus juga kan? Entah itu putusnya jadi manten atau mantan.

Rukun Jomblo Elegan
Para jomblo yang saya cintai, perlu diingat bahwa meskipun Tuhan menciptakan makhluknya saling berpasangan, tapi pada setiap kelahirannya, setiap manusia terlahir dalam keadaan jomblo. Tak ada satu bayi pun yang terlahir dengan status menikah. Bahkan, di hadapan-Nya kelak, kita akan di-real count untuk mempertanggungjawabkan amal sendiri-sendiri, secara jomblo. Maka janganlah mengutuki status jomblo kalian! Sadarlah bahwa ada kalanya kita memang harus berani hidup sendiri, ada kalanya pula kita hidup dengan pasangan.
Jika saat ini kalian harus hidup sendiri (men-jomblo dulu), maka jadilah jomblo yang elegan. Yang kehadirannya tidak menjadi aib masyarakat. Yang tanpamu media sosial jadi nggak seru. Yang kesendirianmu digunakan untuk berkarya agar memberikan manfaat . Dengan jadi Jomblo Elegan, maka pertanyaan "Kapan nikah?" menjadi pertanyaan yang sepele buat klian.

Nah, setelah melalui beberapa pengamatan, maka setidaknya ada lima rukun buat kalian, wahai para jomblo yang saya cintai, agar menjadi jomblo yang elegan. Berikut pemaparannya:

Rukun pertama, jangan pernah mengupdatestatuskan statusmu yang jomblo ini dengan tulisan yang jika dilihat orang lain, kalian menjadi orang yang memang harus dikasihani. Tanpa uluran tangan orang lain, kalian seolah-olah tak berguna. Jangan! Contoh update statusnya: lebaran kali ini jalan sendiri lagi dech … LLL. Ingat, update status kalian menggambarkan seperti apa wajah kelompok kalian negeri ini. Kalau tahun ini masih sendiri, ya cari dong! Jangan cuma update status. Mudah-mudahan tahun depan tak sendiri lagi. (ngomong sama diri sendiri)

Rukun kedua, jangan juga terlalu defensif berlebihan. Semisal update status di media sosial dengan melarang orang lain untuk bertanya, “Kapan nikah?”. Ingat prinsip orang kentut. Orang kentut yang terlalu defensif dengan bilang “Not me! Not me!” sangat tidak elegan. Mengakui kentut lalu bilang “I’m sory” sungguh lebih afdhal daripada membohongi publik, apalagi menuduh orang lain. Lebih baik mengakui kejombloan daripada melarang orang lain untuk menanyakan status kalian.


Rukun ketiga, jika kalian salah satu jomblo yang suka nyanyi-nyanyi (meski cuma nggremeng) dalam melakukan banyak aktivitas, maka pilihlah lagu-lagu 90-an. Karena lagu-lagu akhir-akhir ini kurang elegan, meski juga beberapa lagu tetap elegan, tapi gaungnya tidak begitu terdengar. Mau bukti? Mari kita bandingkan lirik lagu kedua lagu yang berbeda masa ini:
Lagu masa sekarang, saya ambil contoh lagu milik Geisha: 
Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Ku ingin lupakannya
Kalian benar mau jadi amnesia? Pikir-pikir lagi deh. Ingatlah selalu sampul buku tahun 90-an berwarna coklat yang berbunyi ‘Pengalaman adalah guru terbaik’. Kalau pun ada pengalaman yang kurang baik di masa lalumu, ambillah pelajarannya. Dan pengambilan pengalaman itu hanya bisa dilakukan jika kalian tak amnesia. (maaf ya, yang penggemar Geisha)
Bandingkan dengan lagu 90-an milik Koes Plus:
Apa susahnya jadi bujangan
Ke mana-mana asalkan suka
Tiada orang yang melarang
Lebih elegan lagu yang kedua bukan? Mungkin yang dirasakan sama, tapi yang nampak oleh orang lain jelas beda. Dan itu akan mempengaruhi juga dengan apa yang ada dalam otak kita. Jangan sekali-kali mendengarkan lagu galau jika kau sedang kesepian, kecuali akan mengurangi wira’i kejombloanmu.

Rukun keempat, ini adalah rukun yang sangat menentukan. Ibarat doa, maka ini adalah aminnya. Ibarat stand up comedy, maka ini adalah punchline-nya yang akan membuat penonton gerrrrr. Rukun ini untuk menjawab orang-orang yang bertanya pada kalian, “Kapan nikah?”. Penanya “Kapan nikah?” menurut saya dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:
Pertama, penanya yang masih jomblo. Jika yang bertanya lawan jenis, maka itu pertanda baik. Contoh percakapan:
Cewek jomblo: “Kapan nikah?”
Kalian (cowok): “Nunggu kamu siap. Iya, kamu!”
Tapi jawaban ini jangan dikeluarkan jika yang nanya berjenis kelamin sama denganmu. Sungguh itu tindakan yang tak bijak dan teramat nggilani.
Kedua, penanya yang sudah menikah. Jika yang bertanya wanita atau pria yang sudah menikah, maka jawabannya jadi begini:
Wanita atau pria yang sudah nikah: “Mblo, kapan nikah?” (bertanya dengan sinis)
Tersenyumlah, lalu bilang: “Paman/tante punya ponakan atau saudara yang cocok buat saya?”

Itulah rukun-rukun menjadi Jomblo Elegan. Yang mana rukun kelima? Silakan cari sendiri, kreatif dong! Masa udah jomblo, nggak kreatif lagi! Dasar jomblo!
Sebagai penutup, saya akan mengutip sebuah kata bijak yang tidak terkenal. Tapi harus saya kutip, karena yang berkata adalah teman sendiri.
“Jika kau sudah siap untuk menikah, maka cepatlah menikah. Tapi jika belum, maka nikmatilah masa jomblomu.”

Gimana, sudah siap menjadi jomblo yang elegan? Selamat mudik, saya juga mau mudik. Kangen dengan sagon, satu, rengginang, peyek yang dimasukkan ke toples roti Khong Guan saat lebaran tiba.

Ujungberung, Bandung
Tepatnya di kos Pak Deden

Pada 22:09.18072014 Masehi

Tuesday, 8 July 2014

#santringeblog: Sepotong Muqaddimah

Mengapa Pesantren?
Jika tak ada yang bertanya mengapa saya menulis tentang pesantren, berarti kalian sama dengan saya: saya juga tidak ada pertanyaan tentang hal  ini. Tapi jika ada yang bertanya mengapa saya mau menulis tentang pesantren, jawabannya akan saya utarakan sedemikian mungkin sehingga anda mengira bahwa saya mahir menulis dan berpikir. Jawabannya: Karena dunia pesantren adalah dunia yang membesarkan dan membentuk kepribadian saya, ia sangat dekat dengan diri saya. Mengapa saya tak menjadi dai muda seperti di tivi-tivi, atau menjadi stand up comedian,atau menjadi musisi? Saya tak tahu mengapa.

Tulisan yang akan saya tulis ini (kalau lancar nulisnya) bukan berarti mewakili gambaran pesantren di seluruh Nusantara. Tidak sama sekali! Sebab, satu pesantren dengan yang lain memiliki keunikannya masing-masing, meski tentu banyak kesamaannya pula. Walaupun ada yang mengelompokkan dengan tiga model: 1) pesantren salaf, 2) pesantren modern, dan 3) pesantren semi-modern, tapi pada kenyataannya pembeda dari setiap pesantren sangat banyak.

Baik, saya mulai dengan membaca basmalah dan mengetik huruf per huruf di Microsoft Word agar tulisan ini terus berlanjut. Mudah-mudahan jika suatu saat saya males ngetik karena kesibukan kerja atau yang lainnya, saya bisa mengalahkan kemalasan itu.

Pengin Tahu Saya?
Meski kedua orang tua bukan tokoh agama, tapi lingkungan tempat saya lahir adalah lingkungan yang agamis. Buktinya jajan lotre yang biasanya dijajakan tukang rongsok dengan hadiah gulali, pistol-pistolan, ular tangga, dll., menjadi suatu yang haram bagi lingkungan saya, meski tanpa peraturan tertulisnya. Padahal saat itu saya masih kecil dan belum bisa berpikir sejauh itu, dan anak-anak seusia saya biasa mem-barter lotre dengan rongsok plastik dan ember dan lain-lain kepada tukang rongsok yang saya kenal dengan nama Lek Kampret itu.
Saya mengenal pesantren sejak usia sekolah dasar, di mana beberapa tetangga dan kakak saya sendiri sudah jadi santri kala itu. Dan setiap minimal satu tahun sekali saat acara haflah akhirussanah, saya dengan orang tua berkunjung ke pesantren kakak, di samping menjenguk juga mengikuti acara haflah dengan puncak pengajian. Nah, dari sini saya begitu tertarik dengan suasana pesantren. Kebersamaan, kebebasan, kemeriahan, dengan nuansanya yang sangat natural dan akrab kala itu menjadi sesuatu yang berkesan. Terlebih di tempat pesantren Mas Wiwit (nama kakak saya) ada sebuah kolam renang besar yang dipakai oleh santri untuk nyuci baju, wudhu, mandi, juga berenang, semuanya jadi satu. Itulah permulaan mengapa saya tertarik untuk ke pesantren. Kesan yang positif terhadap satu hal akan membuat kita mengidamkan dan mendambanya, seraya berharap agar suatu saat kita menjadi bagian darinya.

Lulus SD (tahun 1997) saya sudah ngebet ke Bapak untuk dimasukkan pesantren, tapi bukan pesantren Mas Wiwit yang ada kolam besarnya. Saya ingin masuk pesantren Pak Lik yang ada di Malang, Jawa Timur. Menurut saya, masuk pesantren yang letaknya masih dalam satu kabupaten kurang sip, di samping karena di sana sudah ada Mas Wiwit. Rivalitas dari kecil untuk memperebutkan perhatian, mainan, baju baru, dan segala macam rupanya masih membara. Jarak saya dengan dia yang hanya dua tahun membuat kami bertengkar ketika bersama, tapi kangen saat berpisah. Kalau kalian punya kakak yang jenis kelaminnya sama dan jarak lahirnya sebentar pasti merasakan hal ini. Kalau tidak, berarti saya salah. Di samping itu, sebagai orang Jawa, saya selalu ingin berbicara dengan orang tua dengan bahasa Jawa halus kromo inggil, dan menurut saya kalau saya nyantri di tempat yang jauh tentu pulang setahun sekali, dan itu akan memudahkan saya untuk ‘tiba-tiba’ ber-kromo inggil tanpa canggung dan malu-malu kepada kedua orang uta. Tidak seperti Mas Wiwit yang kadang sebualan sekali pulang dan masih saja bicaranya Jawa ngoko.

Tapi keinginan saya tidak disetujui oleh Bapak. Dikarenakan saya masih memiliki tiga orang adik. Jika saya masuk pesantren, tentu Mamak saya akan kerepotan mengurus mereka yang masih kecil-kecil, belum lagi seabrek urusan rumah yang lain. Akhirnya saya sekolah di sebuah SMP Negeri yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Untuk saat itu keinginan saya kandas, dan saya menerima saja.

Baru di tahun 2001 setelah lulus SMP, saya akhirnya melanjutkan sekolah di pesantren. Tapi bukan pesantren di Malang, melainkan pesantren tempat Mas Wiwit nyantri. Alasannya klasik, biaya lebih murah karena jaraknya yang relatif dekat. Jika ada apa-apa, enak ngurusnya.
Tahun itulah saya mulai menjadi santri, dan saya bangga menjadi bagian dari lembaga pendidikan yang usianya sangatlah tua di negeri ini. Sampai tulisan inidiketik, meski secara lahir saya sudah tak lagi menjadi santri, tapi secara batin saya adalah santri. Ada ikatan kuat antara seorang santri dengan guru-gurunya yang tak pernah putus, yaitu doa.

Saya kira cukuplah Secuil Muqaddimah tentang #santringeblog ini. Jika ada pertanyaan, tak usah dikirim lewat surat apalagi pakai burung merpati, cukuplah meninggalkan coretan di sini saja. Kalau tak ada, mbok bertanya, biar saya senang. Biar tulisan saya ini kelihatan bagus. Tapi kalau memang tak ada, ya sudah lah.

Mari kita mulai kisah saya di pesantren dalam #santringeblog ini dengan ceria. Dari yang biasa, memalukan, berkesan, sampai yang lupa-lupa ingat sehingga mungkin satu atau dua dialog harus saya ‘reka ulang’ meski tanpa menghilangkan substansi. Tapi jika kamu belum shalat saya sarankan untuk shalat dulu, jika ingin tadarus Al-Qur’an mending tadarus dulu. Sungguh, shalat dan tadarus jauh lebih baik daripada membaca tulisan ini.
Cekidot!

Bandung, 5 Juli tahun 2014 Masehi (4 hari lagi pilpres)

Tepatnya di kos Pak Deden yang berukuran kurang lebih 3x3 meter

Wednesday, 2 July 2014

Mengapa Fuad Ngajiyo?

Saya memakai nama ini sekitar tahun 2008 atau 2009, tepatnya saya lupa. Yang jelas saat itu saya yang baru kenal facebook pada tahun 2008 menggunakan nama akun fb dengan ‘Fuad Ngajiyo’ setelah sebelumnya dengan nama asli Irawan Fuadi. Nama ini sendiri terinspirasi sebuah nama akun facebook seorang yang saya hormati, yaitu ‘Manuto Muhammad’. Pertama kali lihat akun ini, saya langsung tertarik. Unik dan bermakna. ‘Manuto’ adalah bahasa jawa yang artinya ‘teladanilah’, sedang Muhammad yang dimaksud adalah Nabi Muhammad, maka makna ‘Manuto Muhammad’ menurut penafsiran saya adalah teladanilah Nabi Muhammad.

Maka, tanpa melalui shalat istikharah saya mengganti akun fb dengan nama ‘Fuad Ngajiyo’. Kata ‘Fuad’ yang diambil dari nama belakang saya (Fuadi) dengan menghilangkan huruf ’i’-nya bermakna hati, sedang kata ‘Ngajiyo’ yang berupa kata perintah bermakna ‘mengajilah/belajarlah’. Awalnya tak terpikirkan bahwa nama ini sangat unik (menurut saya sendiri sih), tapi lama kelamaan kok unik ya…

Saya memakai nama ini pada akun fb bukan berarti saya tak menghormati Bapak dan Mamak yang bersenang-senang kemudian melahirkan orok dan diberi tanda Irawan Fuadi. Sama sekali. Ini lebih bermakna peringatan kepada diri sendiri bahwa di manapun saya berada, maka saya harus mengaji/belajar. Daripada diganti nama ‘Fuad Ingind Clalu Dimerthi’, mending ‘Fuad Ngajiyo’ bukan?

Ternyata nama ini pernah membuat Bapak saya menjadi bingung, begini ceritanya:

Suatu kali ada Pak Pos yang datang ke rumah saya membawa paket berisi buku. Merasa alamatnya benar, dia bertanya kepada Bapak yang kebetulan di teras.
“Maaf Pak, benar ini rumahnya Fuad Ngajiyo?” Tanya Pak Pos.
“Kalau rumahnya Fuad benar, tapi nama lengkapnya Irawan Fuadi.” Ya jelas tahu persis lah Bapakku tentang nama panjangku.
“Tapi alamatnya benar di sini Pak.”

Entah rayuan apa yang diberikan oleh Pak Pos kepada Bapak, akhirnya Bapak menceritakannya kepada saya yang kebetulan sedang ngumpul bersama beberapa saudara ketika ada acara pengajian di rumah. Orang-orang yang aktif di dunia maya dan tak gagap teknologi seperti Bapak hanya senyum mendengar cerita Bapak.
Oalah, karang wong tuwa ndeso, dijelaske yo ora mudheng.

#santringeblog

Thursday, 22 May 2014

Curug Muncar adalah Anugrah Tuhan untuk Purworejo

Purworejo, sebagai sebuah kabupaten memang tergolong tidak terkenal, bahkan namanya kalah terkenal dengan Kutoarjo, sebuah kecamatan yang ada di Purworejo. Maklum, Kutoarjo memang memiliki jalan raya nasional yang menghubungngkan antara Kebumen dan Jogja, selain juga memiliki stasiun kereta Api yang tiap tahunnya dipakai oleh orang-orang dari Purworejo, Magelang, Kebumen, Wonosobo, bahkan Temanggung untuk mudik lebaran. Namun objek wisata alam di sini ternyata memiliki kekayaan yang lumayan bagus, sayang pemerintah daerah belum mengelolanya dengan baik. Salah satunya yaitu Curug Muncar yang terletak di Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, jaraknya sekitar 45 km ke arah barat daya dari pusat Purworejo.

Sebagai warga Purworejo, tentunya saya ingin menikmati beragam wisata alam yang dimiliki kabupaten yang sangat tua ini. Akhirnya angan-angan saya terkabul setelah melalui perbincangan ringan di sebuah panggok, tempat di manasetiap malam hari kita, anak-anak muda, berkumpul untuk sekedar ngobrol dan lain-lain. Hari itu tepatnya tanggal 9 Februari 2014, saya dan teman-teman memutuskan untuk mengunjungi air terjun Curug Muncar. Barangkali, inilah salah satu bentuk kecintaan kami untuk kota kami.

Hari H
Akhirnya setelah telat 15 menit dari jadwal yang ditentukan, tepat jam 11.15 aku dan teman-teman berangkat dari desa kami, tepatnya desa Wareng, Kecamatan Butuh, Purworejo. Saya, Habib, Nanang, Slamet, Imam, dan Yusuf, berangkat dengan memakai motor berbonceng-boncengan. 


Curug ini letaknya dari Kutoarjo ke arah utara, dengan jalan yang naik dan berliku, berjarak sekitar 20 km. Jalanan yang kami lalui, selain berliku dan naik, ternyata tidak semuanya mulus. Beberapa bagian aspalnya rusak, dan ini tentu mengganggu para wisatawan yang akan kesana. Untunglah pemandangan di pinggir jalan cukup menarik dan indah khas pegunungan, namun di balik keindahan itu sang sopir harus waspada karena belokannya cukup banyak dan kadang tajam, kalau tidak, jurang menanti di salah satu sisi jalan.


Ternyata lokasi air terjun tidak di pinggir jalan, kami masih harus masuk ke dalam desa dan hutan. Sambil istirahat sebentar, setelah satu jam menempuh perjalanan, kami mampir ke warung membeli snack dan minuman. Karena di air terjun ini masih sepi dan perawan, maka kami harus sedia minum dan makanan sendiri dari rumah jika tak ingin kelaparan dan kehausan. Setelah cukup kami masih harus melewati jalan cor dari semen yang jika tidak hati-hati bisa terpeleset karena jalannya hanya cornya hanya cukup untuk satu motor di kanan dan satu motor di kiri, belum lagi medannya semakin naik turun. Tidak sampai disitu, lokasinya ternyata tidak bisa dilewati kendaraan apapun, akhirnya kami menitipkan motor di penitipan, dan itulah rumah terakhir yang kami jumpai sebelum ke air terjun.


Dan inilah perjalanan yang sesungguhnya yang cukup menguras energ. Bagaimana tidak, dengan jalan setapak yang naik turun, sekitar 40 menit kami berjalan kaki dan itu sangat melelahkan. Sesekali kami istirahat meneguk air sambil menikmati pegunungan yang sangat indah, barangkali bisa melepaskan lelah dan menghibur diri, meski rasa pegal sudah mulai terasa. Haha..

Setelah 40 menit, akhirnya kami sampai pada tujuan. Dari jauh air terjun itu sungguh indah. Dan memanglah tidak sia-sia kalau kelelahan kami dibayar dengan keindahannya. Setelah membasuh tangan dan wajah, akhirnya kami mulai beraksi. Air terjun yang tingginya mencapai…. Sebelumnya saya salat zuhur dulu di atas batu, dan itu ternyata memiliki sensasi yang sangat asyik. Salat di atas batu yang posisinya miring, dengan dikelilingi keindahan alam, dan ditemani air terjun sungguh sangat mengesankan. Sepertiyna saya menyatu dengan alam, dan merasakan betapa besar ciptaan dan anugerah Tuhan kepada manusia. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan? Sementara saya salat di atas batu, teman-teman sudah mulai mandi di bawah air terjun yang mengalir deras, tapi tidak langsung mengenai tubuh mereka. Dan mereka melakukan salat tepat di bawah gemericik air terjun. Pasti lebih sensasional.



Untuk sebuah objek wisata  yang sangat mempesona, pengunjung wisata kebanggan Bruno dan Purworejo ini masih sangat minim. Total selama kami di sana, tidak lebih dari 30 orang kami berpapasan, itu pun bergantian. Dikatakan bahwa, pengunjung ramai jika hanya setelah lebaran. Di mana di sana biasanya ada pementasan seni dangdut. Padahal jika dikelola dengan baik, maka tidak mustahil tempat wisata ini bisa bersaing dengan Grojogan Sewu, Tawangmangu, tentu dengan nilai khas tersendiri yang dimilikinya. Bukankah di sini banyak duren jika musim tiba? Dan wisata itu bisa dikawinkan. Apalagi Purworejo juga punya Pantai Ketawang, Bedug Pendowo, juga merupakan tempatkelahiran pencipta lagu Indonesia Raya WR. Supratman. Sebagai warga asli Purworejo, tentu saya sangat berharap kepada pihak manapun, terutama pemerintah daerah agar tempat wisata Purworejo bisa bersaing dengan kota-kota tetangga seperti Magelang, Yogyakarta, Wonosobo, atau Kebumen. Bukankah letak Purworejo sangat strategis? Menghubungkan Jawa Tengah dan DIY jika melewati jalur selatan pulau Jawa?

Setelah puas, maka jam 13.30 kami memulai pulang, ternyata perjalanan pulangmeletihkan. Di samping badan capek, eh harus jalan lagi…tapi ya sudahlah, hehe…paling tidak kami sangat puas dengan jalan-jalan hari ini. Dan perjalanan wisata hari itu dipungkasi dengan pesta duren di Kutoarjo, tepatnya di sebelah selatan Terminal Kutoarjo dimana para pedagang berjajar jualan. Kami pun makan sepuasnya (lha wong dibayari), sayang Imam tak doyan duren, ia pun hanya menunggu di jok motor.


Akhirnya kami sampai ke desa tercinta kami dengan puas meski lelah. Ternyata kota ini memiliki tempat wisata yang sangat menarik. Entah kapan lagi kami akan jalan-jalan lagi, tentunya di daerah Purworejo, tempat lahir kami semua. Tentu masih banyak destinasi wisata yang menarik lainnya. Dan Curug Muncar adalah anugerah untuk Purworejo.

@fuadngajiyo

Monday, 12 May 2014

Ini Tato Ular


Ket:
1. Tato dibuat oleh pakarnya, yaitu salah satu program komputer yang saya lupa namanya. Dengan tato ini, kalian yang beraga Islam akan tetap bisa berwudhu dan mandi junub. Maka jika kalian ingin terlihat keren, pakailah tato seperti ini!
2. Perhatikan kaos kakinya yang robek, maka sesungguhnya seorang pelajar SMP berkata "Mas, kaos kakinya sobek". Yaitu saat dia mengisi acara di sebuah sekolah dan sepatunya dilepas, tentang Bahaya Narkoba di Kalibawang, Kulon(e)progo.
3. Ketahuilah bahwa sepasang sepatu yang terfoto sedikit itu dibeli dari rombengan di Pasar Legi Kotagede tahun 2011. Percayalah, sesungguhnya aku bukanlah orang yang sederhana, tetapi sedang tidak punya uang.

Monday, 28 April 2014

Catatan dan Cocotan Pemilu dari Dinding ef-be (bukan be-ef)




Catatan 9 April
Liga Jerman, Inggris, dan Spanyol si kaos merah saat ini menjadi pemuncak klasemen.
Apakah ini berarti pemilu kali ini .....

Entahlah, di tempat kelahiran saya bendera putih simbol lelayu, dan tidak demikian dengan di beberapa daerah Jabar yang memilih kuning sbg simbolnya.


Catatan 10 April
Dan ketika bang Iwan meneriakkan kata-kata "Brengsek lo!" di tengah-tengah para petinggi partai, para penonton bersorak.
Mbak Najwa pun ikut-ikutan meneriakkan dengan merdu, "Brengsek lo!", sambil tersenyum dan melanjutkan, "kalau ada Bang Iwan nggak papa ngomong itu."
Sementara aku menyimak ditemani 'remukan' indomie yang tak sempat kurebus.


Catatan: Status ini berkenaan dengan acara TV yang saya tonton di Metro TV, yaitu acara Mata Najwa.Bintang tamunya saat itu para petinggi partai dan capres/ cawapres. Ada Jokowi, Ahok, Dahlan Iskan, dll. Yang paling spesial adalah, acara itu diiringi dengan musik Iwan Fals.
Brengsek Looo!!

Catatan 11 April
"Siapa bilang hanya caleg yang tidak jadi saja yang bisa stres? Bahkan caleg yang jadi pun berpotensi stres lebih besar. Karena dia stres dan men-streskan yang lain."

Begitu ujar temannya temanku dalam hati sembari melihat jari kelingking tangannya yang berlumur tinta. Wajahnya tersenyum berbinar-binar.
"Alhamdulillah, wis biso ngeprint maneh"

  
Catatan 12 April
Partai politik seperti sederetan angkring di jl. Mondorokan. Kadang angkring pojok Pasar Legi yang paling laris, lain hari yang dekat Mupat yang laris, dan seringnya angkring Bapak Rapi sebelah timur Sungai Gajah Wong yg laku keras. Itu karena service Bapak Rapi dan transparansi uang kembalian selalu istiqamah.
Partai politik seperti sederetan angkring di jl. Mondorokan. Ada saat pasang surut dan harus menerima jika ada pemain baru datang.


Catatan: kedekatan saya dengan Kota Jogja menggiring tangan saya untuk menstatuskannya.


Catatan 15 April 2014
Para pangeran penunggang kuda putih; PDI P, Golkar, dan Gerindra mencari putri jelita untuk dipersunting. Tengok kanan tengok kiri, berkunjung ke kerajaan timur maupun barat, selatan maupun utara. Dan Kerajaan Demokrat yang bersayembara memilih calon Pangeran kini sedang merana, sayembara itu dihentikan di tengah jalan, oh kasihan para pemuda gagah yang telah menunjukkan keahlian mereka berkuda, memanah dan bermain pedang. Sementara PKB, PAN, PPP, Nasdem adalah gadis kerajaan berparas cantik yang menunggu pangeran datang untuk mempersunting mereka. Apakah mereka akan dimadu? entahlah.
rakyat bersorak entah untuk apa. Mereka bahagia sebab katanya telah ikut menentukan nasib kerajaan.

Sementara saya (lagi-lagi) dengan ditemani 'remukan' Indomie menonton penuh semangat, menanti akhir cerita yang tak mudah ditebak ini. Tak ada air panas, terpaksa 'remukan' Indomie ditemani sebungkus serbuk kopi instan bermerek Kapal Api.
 


Catatan 18 April
Kabar beberapa media partai-partai Islam mau koalisi tapi nggak jadi?

Setahu saya tak ada partai yang beragama, mereka nggak ada yang bersyahadat. Dan Nabi juga tak diutus ke muka bumi untuk mendirikan partai.


Catatan 20 April   
Pembelinya sih sepi di angkringan sini, yang rame malah para pemiliknya, saling pecat memecat. Emang susah kalo angkring milik bareng-bareng, riskan kayak gitu. Lihat tuh angkring yang sebelah, yang katanya angkring modern tapi masih milik keluarga, paling enggak nggak ada yang saling pecat memecat.

Khulashoh: milikilah angkring secara kaffah.


Catatan: mengomentari PPP yang ramai karena terjadi saling pecat memecat antara petinggi partai. 

Catatan 20 April
Tak selamanya suporter menjadi pemain ke-12, lihat saja MU yg tampil buruk di kandang.
Seperti demikianlah sebuah partai, pendukung bisa jadi bumerang, terlebih mereka yg tak puas dengan 'permainan' para petingginya.

# salam olahrasa

 Catatan: Permainan MU menurun drastis musim ini, apalagi saat di kandang.

Catatan 23 April
Moyes dipecat?
Lha mbok islah saja, kan sama-sama enak to...
 
 


Catatan: Kosakata 'islah' diambil dari perdamaian antar petinggi partai PPP yang akhirnya terwujud. 

Monday, 21 April 2014

Kesan Para Sahabat terhadap Beberapa Ayat al-Qur’an



Hai guys, widih nggaya tenan.
Pada postingan kali ini saya ingin menuliskan tentang kesan-kesan para Sahabat Nabi terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang satu dengan yang lainnya yang (boleh jadi) berbeda-beda. Baiklah, akan saya mulai ceritanya.
Ketika kita membaca sebuah novel utuh, biasanya kita mempunyai sebuah kesan yang paling dalam. Nah, kesan yang kita rasakan bisa jadi berbeda lho dengan kesan yang dirasakan oleh orang lain saat membaca novel yang sama. Hal itu wajar, karena otak dalam kepala kita memang berbeda-beda.
Ternyata hal di atas juga dialami oleh para sahabat Nabi terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Berikut akan saya sebutkan beberapa riwayat yang menceritakannya.
Sebuah riwayat menjelaskan, suatu ketika para sahabat tengah asik berbincang-bincang tentang al-Qur'an. Dia berujar, "Saya sudah membaca al-Qur'an mulai dari awal hingga akhir. Saya tidak menemukan ayat yang lebih memberikan harapan dan lebih indah daripada firman Allah Swt. "Setiap orang berbuat sesuai dengan tabiatnya masing-masing." (Q.S. al-Isrā'[17]:84). Tabiat manusia adalah berbuat maksiat, sementara tabiat Tuhan adalah memberikan ampunan."
           Umar bin Khațțab lain lagi, dia mengatakan, "Saya sudah membaca al-Qur'an dari awal hinga akhir. Menurutkau, tidak ada ayat yang paling memberikan harapan dan menarik daripada "Hā Mīm. Kitab ini (al-Qur'an) diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui, yang Mengampuni dosa dan menerima taubat dan keras hukuman-Nya. Yang memiliki karunia. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali." (Q.S. Ghāfir [40]1-3). Sebab Allah Swt. mendahulukan ampunan-Nya sebelum Ia menerima taubat."
Uśman bin Affan juga memiliki pandangan yang lain, dia mengatakan, "Saya telah membaca semua al-Qur'an mulai dari awal hingga akhir. Saya tidak pernah menemukan ayat yang paling indah dan memberikan harapan daripada firman Allah swt."Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S al-Hijr [15]:49).
 Dan juga Ali bin Abi Ţalib, sang menantu Nabi, dia mengatakan, "Saya telah membaca al-Qur'an mulai dari awal hingga akhir. Tidak ada ayat yang lebih baik dan lebih menawarkan harapan daripada firman Allah swt., "Katakanlah, ‘wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesunguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang’." (Q.S. al-Zumar [39]:53)".
Salah seorang diantara para sahabat pun menimpali dengan perkataannya, "Saya telah membaca al-Qur'an mulai dari awal hingga akhir, tidak pernah saya menemukan ayat yang lebih indah dan lebih memberikan harapan daripada firman Allah swt. "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan rasa aman dan mreka mendapat petunjuk." (Q.S. al-An'ām [6]:82)"
Ketika membaca riwayat-riwayat ini dari kitab Mausu’ah al-Qur’an al-Adzim karya Dr. Abdul Mun’im al-Hafani, saya jadi teringat tentang cerita teman, sebut saja Lekno (nama yang sebenarnya nama panggilan). Dia bercerita tentang gurunya al-Maghfurlah KH. Asyhari Marzuqi yang juga guru saya (semoga saya dianggap murid beliau meski belum pernah bertatap muka langsung, Amin!). Beliau adalah seorang ulama yang berdomisili di Kotagede, Yogyakarta dan memiliki banyak santri. Setiap pagi para santri sorogan beberapa ayat al-Qur’an beserta terjemahannya kepada beliau, ada yang membaca, adapula yang menghafal. Di penghujung sorogan, beliau selalu selalu menanyakan “Endi menurutmu ayat sing paling berkesan?” (terj. mana menurutmu ayat yang paling berkesan?).


Cerita itu sendiri saya dapatkan sudah sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu. Dulu sebakda diberi cerita ini saya tidak bertanya-tanya mengapa Kyai selalu bertanya demikian. Hingga pada akhirnya saya menemukan riwayat-riwayat tersebut dalam kitab yang saya baca hari ini, 21 April 2014.
Lahumul faatihah
Bandung, saat Hari Kartini di tahun 2014

Wednesday, 16 April 2014

Bukan Puisi, Puisi Bukan

(I)
Dan ketika mendung bergelayutan di atas Bandung
seorang pemuda beranjak dari kursi merahnya
Dialah diriku,
orang yang menginginkan kembali ke tempat
di mana tumpukan baju tertata tak rapi
di samping tivi tabung 14 inci,
yang tombol salurannya sudah mulai berpindah ke tombol volume. rupanya ia mulai sowak
(II)
Dialah diriku yang seraya berkata,
“Wahai para pengguna jalan, bersabarlah! Diriku mau menyeberang”
Dan suara motor merampas suara lirihku
Sungguh celaka, diriku setadi siang terlalu banyak makan sambal
Hingga penghuni perut berebut keluar
Perutku pun menjadi gusar
(III)
Oooh ...
Demi waktu sore,
ketika matahari kehabisan bahan bakar,
dan langit dicat hitam
sungguh perkataanku semakin ngawur

Bandung, seminggu setelah Pileg 2014